TBS Restan Menumpuk Hingga 5 Hari di Afdeling III Kebun Bukit Lima, Kinerja Manajemen Disorot

Bukit Lima, Simalungun — Metro86 News

Buruknya pengelolaan hasil panen kembali menjadi sorotan di Afdeling III Unit Kebun Bukit Lima Regional II. Sejumlah Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ditemukan menumpuk di lapangan dan diduga telah restan selama 4 hingga 5 hari tanpa segera diangkut ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Kondisi tersebut memicu tanda tanya besar terhadap kinerja jajaran manajemen kebun, mulai dari Mandor Panen, Mandor I, Asisten, Asisten Kepala (Askep), hingga Manager Unit Kebun Bukit Lima Regional II yang dinilai lemah dalam melakukan pengawasan operasional di lapangan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Metro86 News, TBS yang terlalu lama dibiarkan di lapangan berpotensi mengalami penurunan kualitas dan susut bobot secara signifikan. Dampaknya, perusahaan disebut berpotensi mengalami kerugian finansial akibat menurunnya Berat Rata-rata Tandan (BRT) karena buah tidak lagi dalam kondisi segar saat masuk ke PKS.

Keterangan Gambar : Foto Kondisi TBS Diareal Kebun Bukit Lima yang Restan

Tak hanya berdampak terhadap perusahaan, kondisi tersebut juga disebut merugikan para pekerja panen. Pasalnya, hasil kerja pemanen yang telah memenuhi target panen dinilai menjadi tidak maksimal akibat keterlambatan pengangkutan buah.

Selain itu, banyaknya TBS restan di lapangan juga dinilai membuka peluang terjadinya tindak pidana pencurian buah sawit. Areal Afdeling III diketahui berbatasan langsung dengan kawasan permukiman warga sehingga dinilai sangat rawan terjadi kehilangan buah.

Ironisnya, di sejumlah titik lokasi panen juga ditemukan banyak berondolan sawit yang tidak dikutip di area piringan. Temuan itu semakin memperkuat dugaan lemahnya pengawasan dan kontrol manajemen terhadap aktivitas panen di lapangan.

Keterangan Gambar : Foto TBS yang Tidak Diangkut Ke PKS hingga berhari-hari

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait banyaknya TBS restan dan berondolan yang tidak dikutip, pihak manajemen Unit Kebun Bukit Lima hanya memberikan jawaban singkat.

“Baik bang, menjadi perhatian kami,” ujar Manager Unit Kebun Bukit Lima.

Pemerhati perkebunan PTPN, Fernando Panjaitan, menilai kondisi tersebut mencerminkan buruknya tata kelola operasional di Unit Kebun Bukit Lima Regional II.

“Banyaknya TBS restan dan berondolan yang tidak dikutip di Afdeling III menunjukkan lemahnya pengawasan di lapangan. Mulai dari Mandor I, Mandor Panen, Asisten, Askep hingga Manager diduga tidak maksimal menjalankan fungsi kontrol,” tegas Fernando.

Fernando bahkan menilai jajaran manajemen kebun lebih banyak menerima laporan administratif dibanding turun langsung melakukan pengecekan kondisi ancak panen di lapangan.

Ia juga mendesak Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja manajemen Unit Kebun Bukit Lima Regional II.

“Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Selain berpotensi merugikan perusahaan secara finansial, pembiaran TBS restan juga dapat memicu meningkatnya tindak pidana pencurian di areal kebun,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Manager Grup M.E. Lahagu belum memberikan tanggapan resmi terkait banyaknya TBS restan maupun dugaan lemahnya pengawasan di wilayah kerjanya.
(Red/Team)

Pos terkait